Senin, 14 Desember 2015

Politik Dinasti Pemilu Bupati Indramayu Masih Jaya







Ekspresi Walikota Tangerang Selatan dan juga istri dari terdakwa kasus suap MK, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Airin Rachmi Dyani menyaksikan jalannya sidang pembacaan tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas suaminya di Pengadilan Tipikor, Jakarta (20/3). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

kba- Jakarta - Sejumlah kepala daerah yang terpilih berdasarkan hasil hitung cepat dalam pemilihan kepala daerah serentak pada Rabu lalu merupakan wajah lama. Sebagian dari mereka adalah calon kepala daerah inkumben, sementara yang lain merupakan kerabat dari penguasa sebelumnya.

Di Jawa Barat, calon Bupati Indramayu inkumben, Anna Sophanah, dengan mudah memperoleh suara terbanyak. Anne adalah istri Irianto M.S. Syafiuddin atau Yance, eks Bupati Indramayu. Taufik Hidayat, ketua tim pemenangan pasangan Anna Sophanah dan wakilnya, Supendi, mengakui sosok Yance berpengaruh terhadap kemenangan istrinya.

Selama masa kampanye, menurut Taufik, Yance kerap turun ke desa-desa mendampingi sang istri. “Melalui kepemimpinan Bu Anna, diharapkan ide-ide Pak Yance bisa tetap ada,” ucapnya, Kamis, 10 Desember 2015. Berdasarkan hasil hitung cepat, pasangan Anna-Supendi unggul dengan perolehan 55,13 persen suara.

Di Banten, dinasti bekas gubernur Atut Choisiyah juga memimpin. Adik ipar Atut, Airin Rachmi Putri Diani, kembali terpilih sebagai Wali Kota Tangerang Selatan. Adik Atut, Tatu Chasanah, juga terpilih sebagai Bupati Serang berdasarkan hasil hitung cepat Indo Barometer. “Dalam survei, memang keluarga Atut memiliki elektabilitas tinggi,” ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qudori.

Aturan kampanye yang melarang calon memasang alat peraga, menurut Qudori, justru menguntungkan dinasti Atut. Sebab, tutur dia, masyarakat tak banyak mengenal calon pasangan lain yang merupakan pendatang baru.

Begitu pula dengan Zumi Zola dalam pemilihan Gubernur Jambi. Berdasarkan hasil hitung cepat Charta Politica dan Indo Barometer, Zumi, yang sebelumnya menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur, mendulang suara terbanyak. Ia mewarisi darah politik ayahnya, Zulkifli Nurdin, yang menjabat Gubernur Jambi selama dua periode.

Neni Moerniani, yang maju dalam pemilihan Wali Kota Bontang dari jalur perseorangan, juga didukung popularitas suaminya, Sofyan Hasdam. Sofyan menjabat Wali Kota Bontang selama dua periode. Berdasarkan hasil hitung cepat, Neni mengalahkan calon Wali Kota Bontang inkumben. “Keberhasilan suami memimpin Bontang turut mempengaruhi kemenangan saya,” ucapnya.

Kuatnya pengaruh dinasti politik, menurut Yunarto, bisa dibatasi bila ada aturan dari partai. Masalahnya, kebanyakan partai memilih cara pragmatis dengan memasang calon populer yang bisa memodali dirinya sendiri. “Hal ini membuat regenerasi tidak berjalan. Tapi itulah realitas politik kita,” ujarnya.(sumber tempo.co)